Senin, 22 April 2013

MODEL PEMBELAJARAN IPS



Model-Model Pembelajaran IPS  
(Burhanuddin,M.Pd)
 
A. Pendahuluan
            Globalisasi dunia menyadarkan kita akan adanya keterbatasan masyarakat dan negara,  saling ketergantungan antar negara, perbedaan budaya, dan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan. Proses globalisasi yang terjadi saat ini membawa perubahan yang begitu cepat  pada masyarakat, juga pada dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan di Indonesia dituntut untuk berwawasan global dengan dilakukannya reformasi dalam kurikulum dan proses pendidikan.
Reformasi dilakukan dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel yang memungkinkan siswa mengembangkan potensinya secara kreatif dan alami dalam suasana kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab. Implikasinya dengan dilakukan perombakan kurikulum pendidikan nasional. Kurikulum tidak hanya kebijakan sosial pemerintah saja, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pasar (dunia kerja). Untuk itu, pemerintah saat ini berusaha membalik perbandingan persentase jumlah sekolah menengah di Indonesia, yang dahulu 70% SMA: 30% SMK menjadi 30% SMA: 70% SMK untuk masa yang akan datang.
Perubahan lain dalam proses pendidikan, mata pelajaran tidak dikembangkan secara terpisah melainkan lebih secara terpadu sehingga mata pelajaran dikaji dan dianalisis secara multidisipliner dan interdisipliner. Pengembangan mata pelajaran secara terpadu memungkinkan siswa untuk aktif selama proses pembelajaran. Siswa juga dirangsang memiliki motivasi untuk mempelajari materi sehingga terjadilah pembelajaran secara berkelanjutan dalam diri siswa. Model pembelajaran secara terpadu dirancang untuk mempersiapkan siswa dalam kemampuan dasar kognitif dan tanggung jawab untuk memasuki kehidupan yang sangat kompetitif dalam derajat ketergantungan antar bangsa yang sangat tinggi. Sehingga memungkinkan pengembangan kemampuan siswa dalam hal thinking skill, personal skill, dan interpersonal skill.
B. Pembahasan
1.     Perbedaan Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dipakai dalam dunia pendidikan sangat dipengaruhi oleh hasil penelitian sistem kerja otak manusia. Menurut Eral Hunt (Zamroni, 2000:129), hasil brain research pada waktu lampau menunjukkan sistem kerja otak yang statis sehingga seseorang dalam belajar bersifat pasif. Otak dalam  mempelajari informasi mesti secara bertahap poin demi poin.
Penelitian terkini tentang sistem kerja otak seperti dikemukakan oleh Caine dan Caine (Zamroni, 2000:130-131) menunjukkan bukti yang berbeda. Intelegensi ternyata bersifat dinamis dan dapat berkembang. Intelegensi juga tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif saja, tetapi berkaitan juga dengan emosi yang disebut dengan emotion intellegence (EQ).  Selain IQ dan EQ muncullah jenis kecerdasan baru, VS Ramachandran (Ary Ginanjar, 2007:12) menemukan eksistensi God Spot  dalam otak manusia yang terletak di bagian depan sebagai pusat spiritual sehingga muncullah spiritual intellegence (SQ).
Lebih lanjut Howard Gardner (Asri Budiningsih, 2008: 112-116) mempromosikan hasil penelitian Projec Zero di USA yang berkaitan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligences) hasil penelitiannya yang menunjukkan terdapat tujuh macam kecerdasan manusia dan pada buku yang terakhir ditambah lagi tiga macam kecerdasan  manusia yang bekerja secara utuh dan terpadu dengan komposisi yang berbeda-beda pada tiap orang. Sepuluh macam kecerdasan manusia tersebut meliputi: (1) kecerdasan verbal/bahasa, (2) kecerdasan logika/matematik, (3) kecerdasan visual/ruang, (4) kecerdasan tubuh/gerak tubuh, (5) kecerdasan musikal/ritmik, (6) kercerdasan interpersonal, (7) kecerdasan intrapersonal, (8) kecerdasan naturalis, (9) kecerdasan spiritual, dan (10) kecerdasan eksistensial.
Hasil-hasil penelitian sistem kerja otak memiliki implikasi terhadap model pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
Tabel 1. Model Pembelajaran Lama dan Baru Berkaitan dengan Pemahaman Sistem Kerja Otak
No
Aspek
Pemahaman sistem kerja otak lama
Pemahaman sistem kerja otak baru
1
Penyajian materi
Tersusun dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan
Tersusun dalam problem, tema dan terintegrasi/ terpadu
2
Outcome
Aspek kognitif sangat menonjol, aspek afektif lemah
Aspek kognitif dan afektif, khususnya kerjasama dan kompetensi sosial
3
Guru
Individual
Team teaching
4
Prosedur
Relatif rigid
Relatif fleksibel
5
Sasaran
Pemahaman konsep
Pemahaman konsep, hubungan, dan keterkaitan
6
Model Learning
Individual learning
Cooperative learning
7
Sasaran evaluasi
Individu
Individu dan kelompok
8
Pola belajar
Potongan demi potongan menjadi gambar
Kerangka untuk ditempel gambar.
Sumber: Zamroni (2000:136).
Dari tabel tersebut dapat disimpulkan, berdasarkan hasil penelitian mutakhir tentang sistem kerja otak maka model pembelajaran yang cocok untuk diterapkan saat ini adalah model pembelajaran terpadu dan model  cooperative learning. Model pembelajaran terpadu dilihat dari dimensi penyajian materi sedangkan model cooperative learning dilihat dari dimensi proses belajar mengajarnya.

2.     Pembelajaran Terpadu
a.     Pengertian Model Pembelajaran Terpadu
Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdiknas, 1996:3).  Zaim Elmubarok (2008:81) mengemukakan, pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar mengajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran sebagai titik pusatnya (center core/center of interest). Sedang menurut Trianto (2010 :55-57), pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain,  baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman anak, sehingga memungkinkan siswa, baik secara individu maupun kelompok, aktif, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik .
           Bisa disimpulkan pembelajaran terpadu sebaiknya memiliki satu tema aktual, dekat dengan dunia siswa, dan ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran. Pembelajaran terpadu dapat juga dilakukan dengan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman bermakna kepada anak didik. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran terpadu, anak akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang mereka pahami.  
           Penerapan pembelajaran terpadu tentu tidak mudah karena berbagai faktor perlu dipersiapkan terutama kesiapan guru. Penerapan pembelajaran terpadu tidaklah semudah pembelajaran monolistik. Sebab, pembelajaran terpadu tidak hanya memerlukan pengemban kurikulum yang handal, akan tetapi juga membutuhkan guru yang mampu menghubungkan makna berbagai disiplin yang terintegrasi. Tetapi bagaimanapun juga guru mesti berupaya melaksanakan pembelajaran terpadu agar siswa memperoleh sejumlah manfaat dari keunggulan pembelajaran terpadu yang tidak dimiliki pembelajaran monolistik.

b.     Manfaat Model Pembelajaran Terpadu
            Secara spesifik  Trianto (2007:12)  merumuskan manfaat model pembelajaran terpadu dari perspektif kepentingan siswa sebagai berikut:
a.         Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannnya.
b.         Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
c.          Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
d.         Keterampilan berfikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
e.         Kegiatan belajar  mengajar bersifat prakmatis sesuai lingkungan anak.
f.          Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.      
Pembelajaran terpadu menjawab semua aspek yang dibutuhkan siswa mulai dari kesesuaian dengan kebutuhan, minat, keterampilan berfikir, bermakna, pragmatis, dan keterampilan sosial.     
            Terkait dengan pembelajaran bermakna yang merupakan salah satu ciri pembelajaran terpadu, Oemar Hamalik (2007:36) menjelaskan bahwa  pembelajaran dengan pendekatan integratif atau terpadu, bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau kesatuan yang bermakna dan terstruktur. Bermakna mempunyai arti bahwa setiap suatu keseluruhan tersebut memiliki makna, arti, dan faedah tertentu. Pembelajaran bermakna lebih luas lagi adalah adanya koneksitas antara apa yang dipelajari dengan struktur pengetahuan siswa sebagaimana dikemukakan Nana Syaodih Sukmadinata (2008:135-140) bahwa pada belajar bermakna pengetahuan baru harus mempunyai hubungan atau dihubungkan dengan struktur kognitifnya. Hasil belajar bermakna lebih mempunyai retensi daripada belajar menghafal. Dengan demikian belajar bermakna lebih efektif dibandingkan dengan belajar menghafal.

c.          Model-Model Pembelajaran IPS Terpadu
Fogatry (1991: 1-100) mendeskripsikan ada sepuluh level integrasi penyajian materi pembelajaran yaitu:
1) The Fragmented Model (Model Terpisah)
          Pada model ini berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan saling terpisah walau sudah dalam bentuk satu mata pelajaran. Kelebihan model ini adalah adanya kejelasan pandangan karena mata pelajaran dipelajari secara terpisah. Kelemahan model ini, keterhubungan menjadi tidak jelas karena lebih sedikit transfer pembelajaran antar disiplin ilmu.

2) The Connected Model (Model Terhubung)
          Pada model connected, topik-topik dalam suatu pokok bahasan terhubung dan dikaitkan dengan pokok bahasan lain dalam satu mata pelajaran. Kelebihan model ini antara lain: (1) konsep-konsep utama saling terhubung, (2) mengarah pada review, (3) rekonseptualisasi, dan (4) asimilasi gagasan-gagasan dalam suatu disiplin. Adapun kelemahan model ini adalah disiplin-disiplin ilmu tampak tidak berkaitan meskipun telah disusun hubungan-hubungan secara eksplisit dalam satu bidang studi. Berikut ini ilustrasi model connected:
                      
3) The Nested Model (Model Tersarang)
          Pada pembelajaran  model nested (tersarang),  keterampilan berpikir (thinking skill), keterampilan social (social skill) dan keterampilan mengorganisir (organizing skill) dicapai dalam pembelajaran satu konten mata pelajaran (subject area). Kelebihan tipe nested (tersarang) antara lain: (1) guru dapat memadukan berbagai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu bersamaan, dan (2) pengalaman belajar siswa selama pembelajaran menjadi semakin diperkaya dan diperluas. Kekurangan tipe nested adalah  siswa menjadi bingung dan kehilangan arah tentang konsep-konsep utama dari suatu kegiatan pembelajaran karena banyaknya tugas-tugas belajar. Berikut ini ilustrasi model nested:
4) The Sequence Model (Model Terurut)
          Pembelajaran model sequence adalah model penyajian materi yang diurutkan dalam suatu rangkaian pada beberapa disiplin ilmu. Persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan meskipun termasuk dalam mata pelajaran yang berbeda. Kelebihan model sequence adalah memberi fasilitas transfer pembelajaran melintasi beberapa mata pelajaran. Adapun kelemahan model ini adalah dibutuhkan kolaborasi terus menerus dan fleksibilitas yang tinggi karena guru-guru memiliki lebih sedikit otonomi untuk merancang urutan pembelajaran.

5) The Shared Model (Model Terbagi)
Model shared adalah model penyajian materi dengan perencanaan tim dan atau pengajaran yang melibatkan dua disiplin ilmu dengan difokuskan pada konsep, keterampilan, dan sikap-sikap (attitudes) yang sama. Kelebihan pembelajaran model shared yaitu adanya pengalaman pembelajaran bersama dengan dua orang guru dalam satu tim dan lebih mudah untuk berkolaborasi. Kelemahan model ini adalah membutuhkan waktu, kelenturan, komitmen, dan kompromi antara dua guru tersebut. Berikut ini adalah ilustrasi model pembelajaran shared :

6) The Webbed Model (Model Terjaring)
Pembelajaran model Webbed adalah penyajian pembelajaran  menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dengan menentukan tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin ilmu. Kelebihan model webbed antara lain dapat memberikan motivasi kepada siswa dan membantu para siswa untuk melihat hubungan antar gagasan. Kekurangan model pembelajaran webbed antara lain: (1) sulit dalam menyeleksi tema, (2) cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal, (3) dalam pembelajaran, guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan daripada pengembangan model keterpaduan konsep.
7) The Threaded Model (Model Tertali)
          Model threaded  yaitu model penyajian materi yang menekankan keterampilan-keterampilan sosial, berpikir, adanya berbagai jenis kecerdasan, dan keterampilan belajar yang ‘direntangkan’ dalam satu alur/tali melalui berbagai disiplin ilmu yang berbeda.
Kelebihan model threaded  antara lain para siswa dapat mempelajari cara mereka belajar dan dapat memfasilitasi transfer pembelajaran selanjutnya. Adapun kekurangan model ini yaitu disiplin ilmu masing-masing pelajaran yang bersangkutan tetap terpisah satu sama lain.
8) The Integrated Model (Model Terpadu)
Model integrated menurut Drake (2007 :28), ”This interdisciplinary approach matches subjects for overlaps in topics and concepts with some learn teaching in an authentic integrated model.” Pemikiran Fogarty (1991:2) lebih tegas menjelaskan bahwa: “using a cross-disciplinary approach, this model blends the four major disciplines by finding the overlapping skill, concepts, and attitudes in all four.”  Sebelum guru mengimplementasikan model integrated, harus mengidentifikasi topik, konsep, skill, dan sikap yang tumpang tindih dari berbagai mata pelajaran. Identifikasi akan menemukan tema yang kemudian menjadi titik awal pelaksanaan model integrated.
     Kelebihan model integrated antara lain : (a) mendorong para siswa untuk melihat keterkaitan dan saling hubungan antara disiplin-disiplin ilmu yang berbeda, dan (b)  melihat berbagai keterkaitan tersebut akan meningktakan motivasi para siswa. Adapun kekurangan model ini yaitu sulitnya menerapkan model ini secara penuh karena  memerlukan tim antar bidang studi, baik dalam perencanaannya maupun pelaksanaannya para guru harus mempunyai waktu yang sama.

9)      The Immersed Model (Model Terbenam)
          Pada model immersed, para siswa berkesempatan memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pembelajaran melalui perspektif bidang yang mereka sukai (area of interest). Model penyajian materi ini diintegrasikan secara inter dan antar disiplin ilmu. Kelebihan model immersed adalah keterpaduan berlangsung di dalam diri siswa itu sendiri dan kelemahannya dapat mempersempit fokus para siswa. Ilustrasi model immersed adalah sebagai berikut:

10) The Networked Model (Model Jejaring)
       Pembelajaran dengan model pengintegrasian materi networked adalah proses pembelajaran dimana siswa melakukan pemaduan topik yang dipelajari melalui pemilihan jejaring para ahli di bidangnya dan sumber belajar lain. Kelebihan model networked adalah bersifat proaktif dan para siswa terstimulasi oleh informasi, keterampilan, atau konsep-konsep baru. Adapun kelemahan model ini adalah perhatian para siswa dapat terpecah sehingga upaya-upaya pembelajaran menjadi tidak efektif.
Selain  model keterpaduan di atas, ada model keterpaduan lain  dalam pembelajaran IPS  (Sugiharsono, 2009 : 8-9) yaitu:

1)       Model Keterpaduan Berdasarkan Kompetensi Dasar
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan kompetensi dasar yang akan dicapai, misalnya Mengenal kegiatan ekonomi penduduk. Kegiatan ekonomi penduduk dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup dalam IPS baik itu disiplin ilmu geografi, sosiologi, sejarah dan ekonomi.
                                     
2) Model Keterpaduan Berdasarkan Potensi Utama Suatu Wilayah
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh, “Potensi Yogyakarta Sebagai Daerah Wisata”. Dalam pembelajaran yang dikembangkan, kebudayaan Yogyakarta dikaji dan ditinjau dari faktor alam, historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi utama yang terdapat di daerahnya, siswa selain dapat memahami kondisi daerahnya juga sekaligus mencapai Kompetensi Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin ilmu yang diitegrasikan dalam IPS .
3) Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah berdasarkan permasalahan yang ada, mialnya permasalahan “Kemiskinan”. Pada pembelajaran terpadu, kemiskinan dapat ditinjau dari beberapa aspek sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya adalah aspek ekonomi, sosial, dan budaya, geografi, serta aspek sejarah.

3. Cooperative Learning
Model pembelajaran yang menekankan pengembangan siswa secara individual baik melalui model self study maupun model persaingan sama sekali tidak menanamkan semangat kerjasama dan solidaritas sosial. Hal ini  menyebabkan terjadinya kesenjangan hasil pendidikan. Inovasi dalam dunia pendidikan pada umumnya menguntungkan siswa yang mampu secara ekonomi dan bertempat tinggal di daerah perkotaan. Usaha mengurangi kesenjangan sosial tersebut harus dimulai dari sekolah.
Untuk meningkatkan semangat kerjasama dan solidaritas siswa, perlu dikembangkan pendekatan kerjasama dalam model pembelajaran untuk mengimbangi pendekatan individu dalam dunia pendidikan. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang berbasis kerjasama kelompok adalah cooperative learning. Menurut Morton (Calahan, Trevisan, & Brown, 2007: 274), pembelajaran kooperatif  sangat bagus untuk kelas IPS karena untuk pembelajaran kelompok  yang efektif maka siswa harus belajar untuk menghormati dan menghargai  perbedaan, mendukung satu sama lain melalui proses pembelajaran, berkomunikasi secara efektif dengan yang lain, dan untuk datang ke sebuah konsensus atau pemahaman bila diperlukan.
a. Ciri-ciri Cooperative LearningSimak
Baca secara fonetik

Kamus - Lihat kamus yang lebih detail

Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Calahan, Trevisan, dan Brown (2007: 274) antara lain: (1) menggunakan kelompok kecil terdiri dari tiga atau empat siswa, (2) berfokus pada tugas-tugas yang harus diselesaikan, (3) memerlukan kerjasama dan interaksi kelompok, (4) memberi mandat tanggung jawab individu untuk belajar, (5) didukung divisi pekerja. Berdasar ciri-ciri tersebut, pembelajaran kooperatif menuntut pembelajaran  yang berpusat pada siswa (student-centered learning) sehingga selama proses belajar mengajar siswa aktif berpikir, berdiskusi, dan menyelesaikan tugas-tugas di dalam kelompok.

b. Berbagai Metode dalam Model Cooperative Learning
Slavin (2005: 143-279) mengemukakan berbagai macam metode dalam pembelajaran kooperatif, metode ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS antara lain adalah:
1)    STAD (Student Team Acievement Divisions)
            Langkah-langkah : (1) Siswa membentuk kelompok beranggota empat orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll); (2) Guru menyajikan pelajaran; (3) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah menguasai menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti; (4) Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu; (5) Memberi evaluasi; (6) Kesimpulan.

2)    TGT (Team Game Turnament)
Secara umum metode TGT sama dengan STAD kecuali satu hal, TGT menggunakan turnamen akademik yang biasanya berlangsung pada akhir unit  pelajaran setelah guru selesai presentasi dan tim telah melaksanakan kerja kelompok pada lembar kegiatan.

3)    TAI (Team Assisted Individualization)
Langkah-langkah: (1) Membentuk kelompok heterogen beranggotakan tiga atau empat orang; (2) Siswa membaca panduan dan minta teman dalam tim atau guru membantu bila perlu; (3) Tiap siswa mengerjakan empat soal pertama dalam latihan kemampuan individual lalu jawaban dicek oleh teman satu tim. Bila sudah benar boleh lanjut pada empat soal berikutnya. Bila menghadapi masalah yang tidak bisa dipecahkan tim boleh minta bantuan guru; (4) Setelah semua soal latihan kemampuan diselesaikan dengan benar, boleh mengerjakan soal tes formatif yang harus dikerjakan sendiri sampai selesai. Seorang teman dari timnya akan menghitung skornya dan membubuhkan tanda tangan pada hasil tes apabila skor mencapai ketuntasan dan boleh melanjutkan ke tes unit; (5) Pada tes unit skor diperiksa oleh seorang dari tim lain.

4)    CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
Langkah-langkah : (1) Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen; (2) Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran; (3) Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas; 4) Siswa mempresentasikan/membacakan hasil kelompok; (5) Guru membuat kesimpulan bersama, (6) Penutup.

5)    Learning Together
Langkah-langkah: (1) Siswa membentuk kelompok beranggotakan empat orang dan mempelajari sebuah isue yang kontroversial; (2) Dua anggota kelompok mengerjakan satu sisi dari isue teersebut dan dua anggota yang lain mengerjakan dari sisi lainnnya; (3) Mereka bertukar peran dan memperdebatkan sisi yang berlawanan; (4) Seluruh kelas akhirnya mencapai kesepakatan.
6)    Jigsaw
Langkah-langkah : (1) Siswa membentuk kelompok dengan anggota empat orang; (2) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda; (3) Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan; (4) Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka; (5) Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh; (6) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi; (7) Guru memberi evaluasi; (8) Penutup.
Metode pembelajaran koperatif menurut Slavin (2005: 26-27) memiliki berbagai macam perbedaan, tetapi dapat dikategorisasikan dalam enam karakteristik prinsipil berikut ini :
Tabel 2. Tipologi Metode-metode Pembelajaran Kooperatif
Karakteristik  Prinsipil
Metode
STAD
TGT
TAI
CIRC
LT
Jigsaw
Tujuan kelompok
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tanggung jawab individu
Ya
Ya
Ya
Ya
Kadang
Ya
Kesempatan sukses yang sama
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Kompetisi
Kadang
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Spesialisasi tugas
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Adaptasi terhadap setiap individu
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak

d. Keuntungan Model Cooperative Learning
Keuntungan model cooperative learning menurut Calahan, Trevisan, dan Brown (2007: 275) adalah sebagai berikut: (1) peningkatan pemahaman konten akademik dasar; (2) penguatan keterampilan sosial; (3) pengambilan keputusan oleh siswa diperbolehkan; (4) penciptaan lingkungan belajar aktif, (5) meningkatkan harga diri siswa; (6) perayaan gaya belajar yang beragam, (7) promosi merespon siswa; (8) fokus pada keberhasilan untuk semua siswa. Dari berbagai macam keuntungan bagi siswa tersebut, guru juga bisa mendapatkan keuntungan dengan meminimalkan tingkat stres karena pekerjaan yang banyak dengan membolehkan siswa mengambil tanggung jawab atas belajarnya sendiri dan kelompoknya. Peran guru dalam model pembelajaran koperatif menurut Ellis (1998: 161) lebih sebagai konsultan, mediator, dan fasilitator dalam menjaga agar proses belajar mengajar maju ke depan.
Simak
Baca secara fonetik

Kamus - Lihat kamus yang lebih detail

C. Penutup
Derasnya arus globalisasi saat ini menyebabkan terjadinya banyak perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia. Perubahan tersebut berdampak pada reformasi dalam kurikulum maupun proses belajar mengajar di sekolah. Pada pembelajaran IPS terutama di tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) tampak pada reformasi penyajian materi yang dulu secara monolitik menjadi integratif. Hal ini didasari pada pemahaman sistem kerja otak berdasarkan penelitian mutakhir, bahwa penyajian materi yang paling cocok adalah model integreated.
Model pembelajaran IPS terpadu dinilai mempunyai kelebihan karena siswa dapat mempelajari IPS secara holistik, terpadu, dan bermakna. Model-model keterpaduan IPS  oleh instansi yang terkait juga sudah dilatihkan pada para guru IPS. Walaupun kenyataan di lapangan berbicara lain, para guru masih banyak yang belum mengajarkan IPS secara terpadu. Hal ini terutama terjadi pada pembelajaran IPS di SMP, guru IPS  berdasarkan observasi yang dilakukan masih terdiri dari beberapa guru yang berlatar belakang disiplin ilmu berbeda (ekonomi, sejarah, dan geografi) dengan cara pembagian materi dan penggabungan nilai pada laporan hasil belajar (rapor).
Menjadi ‘PR’ bagi semua pihak yang terkait untuk mewujudkan pembelajaran IPS secara terpadu. Masalah lain berkaitan dengan perubahan yang begitu cepat pada masyarakat adalah makin dalamnya jurang ketimpangan antara yang kaya dengan yang miskin. Hal ini juga melanda pada dunia pendidikan kita. Pada umumnya inovasi-inovasi di bidang pendidikan lebih mudah diakses oleh siswa yang berasal dari keluarga mampu atau tinggal di daerah perkotaan.
Dunia pendidikan bisa melakukan intervensi untuk meminimalisir ketimpangan sosial tersebut melalui model cooperative learning. Dengan model pembelajaran kooperatif siswa dapat melatih keterampilam berpikirnya sekaligus  siswa melatih keterampilan sosialnya untuk bisa bekerjasama, bersosialisasi, dan berkolaborasi dengan siswa lain yang mempunyai perbedaan dengan dirinya. Model cooperative learning ini sangat cocok diterapkan pada pembelajaran IPS yang salah satu tujuannya adalah meningkatkan social skill dari para siswa untuk memecahkan masalahnya. Hasil akhirnya dapat meningkatkan harga diri, aktualisasi diri dan prestasi belajar siswa secara bersama-sama baik pada siswa yang pandai maupun kurang pandai serta dari latar belakang ekonomi mampu maupun kurang mampu.

Daftar Pustaka

Ary Ginanjar A.( 2007). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Jakarta: AGRA.
Asri Budiningsih, C. (2008). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Calahan, Trevisan, & Brown. (2007). Teaching Strategies: A Guide to Effective Instruction. Boston: Houghton Mifflin Company.
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMP. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
Drake, S. M. (2007). Creating Standars-based integrated curriculum aligning, curriculum, content, assessment, and instruction. Second Edition. California: Corwing press A Sage Publication Company.
Ellis, A.K. (1998). Teaching and learning elementary social studies .Boston : Allyn & Bacon A Viacom Company.
Fogarty, R. (1991). The Mindfull School : How to integrate the curricula. Palatine, Illions : IRI/Skylight Publising. Inc.
Nana Syaodih Sukmadinata (2008) Menggagas Pembelajaran Pendidikan IPS. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. (2007). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Slavin, R. E. (2005). Cooperative Learning: Theory, Research and Practice. London: Allymand Bacon.
Sugiharsono. (2009). Pengembangan Pembelajaran IPS Terpadu. Yogyakarta: FISE Universitas Negeri Yogyakarta.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta :  Bumi Aksara.
Trianto.(2007) Model Pembelajaran Terpadu Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Pustaka Pelajar Publisher.
Zaim Elmubarok. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak Menyambung yang Terhapus dan Menyatukan yang Tercerai, Bandung : Alfabeta.
Zamroni. (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.